Polri: Korban Tewas di Bima karena Sakit Perut

Kompas.com - 05/01/2012, 18:54 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyatakan korban tewas dari kerusuhan di Pelabuhan Sape, Bima berjumlah tiga orang. Korban ketiga adalah Syariffudin (46).

Namun, data ini berbeda dengan yang dikeluarkan kepolisian hari ini, Kamis (5/1/2012). Menurut Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, jumlah korban tewas tetap dua, sementara itu ditemukan data baru di mana ada seseorang bernama Syarifuddin Arrahman (32) yang juga tewas pada hari yang sama Sabtu (24/12/2011). Tetapi, ia tewas bukan karena menjadi korban kekerasan tapi karena ia mengalami sakit perut.

"Hasil penyelidikan Polri melalui kerjasama dengan bidan desa, dokter puskesmas dan dokter kesehatan Polri termasuk RS Bima, di mana pada 24 Desember 2011 ada 1 orang meninggal dunia di Dusun Soro Kecamatan Lambu atas nama Syarifuddin Arrahman 32 tahun. Meninggal karena sakit perut," ujar Saud di Mabes Polri, Jakarta.

Menurut Saud, keterangan bahwa Syarifuddin meninggal karena sakit perut ini diketahui dari kakaknya, Hasanuddin. Selain itu, Hasanuddin juga menyebutkan bahwa adiknya sejak pagi, di hari tersebut sakit dan tidak keluar rumah sama sekali.

"Dari keterangan kakaknya Hasanuddin, dia bersama adiknya pada 24 Desember pagi hingga sore dan adiknya tidak ikut unjuk rasa. Setelah meninggal hingga dikubur Minggu sore juga tidak dibawa ke rumah sakit," lanjutnya.

Sejumlah keterangan polisi mengenai orang yang bernama Syarifuddin itu berbeda dengan data Komnas. Menurut Wakil Ketua Komnas HAM Ridha Saleh, Syarifuddin ikut aksi sejak hari pertama pada 19 hingga 24 Desember 2011. Saat aksi pembubaran berlangsung, ia kemudian lari menyelamatkan diri dari lokasi insiden tersebut.

Selain itu, sesuai dengan keterangan kakak korban dalam investigasi Komnas HAM, Syarifuddin ditemukan terjatuh di depan rumah dalam kondisi ada bercak darah di bagian bokong dan basah berlumuran lumpur. Ia kemudian diangkat ke dalam rumah, dan meninggal pada sore harinya. Komnas HAM menyatakan penyebab tewasnya Syarifuddin belum dapat diketahui, tetapi dapat dipastikan bahwa ia berkaitan dengan unjuk rasa itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau